12 Sifat Negatif Orang Indonesia Menurut Mochtar Lubis

Pada tahun 1977 Mochtar Lubis seorang wartawan dan sastrawan menuliskan sebuah buku berjudul “Dalam Manusia Indonesia: Sebuah pertanggung jawab”. Dalam buku tersebut Mochtar Lubis membuat suatu kesimpulan sifat-sifat manusia Indonesia. Isi dari buku tersebut sampai sekarang masih bisa mendapatkan kebenarannya. Inilah 12 sifat negatif orang Indonesia menurut Mochtar Lubis 
1. Hipokrit alias Munafik:
Lain di bibir lain di hati. Lain bicara lain pula tindakan. Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia.
 2. Enggan Bertanggung Jawab:
“Bukan urusan saya”. “Saya tidak tahu menahu tentang itu”. “Bukan salah saya itu”. Contoh tersebut merupakan kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya. Akan tetapi jika merupakan suatu keberhasilan, maka mereka paling depan mengatakan, itu karena saya.
3. Berjiwa Feodal:
Mereka yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan harus dihormati oleh yang dikuasai, yang kecil dan tanpa kekuasaan harus mengabdi kepada yang besar. Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang berkuasa, juga harus dihormati oleh mereka yang di bawahnya, isteri bawahan harus menghormat isteri atasan, anak bawahan harus menomersatukan anak atasan, dan seterusnya. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadership-nya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.
4. Masih Percaya Takhyul:
Sampai sekarang orang Indonesia masih percaya hal-hal gaib dan hal-hal yang dianggap keramat. Orang Indonesia juga percaya dengan jimat, mantera jampi-jampi dan lain sebagainya. Orang Indonesia pun sangat tertarik dengan yang namanya ramalan sehingga seorang paranormal pun bisa menjadi selebriti dan sumber rujukan.
5. Artistik:
Ciri ini selalu memperlihatkan sesuatu yang indah, baik, bagus serta mempesonakan untuk dipandang. Ciri ini bisa mampu menyimpan atau menyembunyikan keadaan sebenarnya yang ada dalam hidupnya, jiwanya, kalbunya. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, Orang asing -turis mancanegara- paling senang menonton nuansa artistik manusia Indonesia ini, karena memang dipertontonkan oleh manusia Indonesia sendiri.
 6. Watak yang Lemah:
Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya.
7. Boros Lebih besar pasak daripada tiang.
Itu kadang sifat yang banyak merasuki orang Indonesia. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Barang-barang bermerek selalu menjadi incaran orang Indonesia.
8. Lebih suka tidak bekerja keras
Mau kaya tapi enggan bekerja keras. Mau dapat gelar tapi ogah belajar. Itulah yang sering kita lihat di sekeliling kita. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, sehingga sering terjebak dengan penipuan dengan kedok investasi. Ada juga yang ingin mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.
9. Manusia Indonesia Tukang Menggerutu
Hanya saja menggerutunya hanya beraninya di belakang orang yang dikeluhkan. Biasa mencari orang yang sepemahaman dengan dirinya.
10. Cepat Cemburu dan Dengki
Cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih maju dari dia. Akibatnya mereka mudah untuk menjatuhkan orang lain dengan intrik, fitnah, dan lain-lain. Ini sering disebut dengan penyakit SMS “Senang Melihat orang Susah, Susah Melihat orang Senang”.
11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok
Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.
12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru atau Plagiat
Suka meniru, sehingga di Indonesia ada istilah KW merujuk pada barang tiruan. Bahkan di lingkungan akademik pun tidak luput dari yang namanya plagiat. Sumber :http://umpalangkaraya.ac.id

Menjadi Guru Profesional?

Sebuah kualifikasi mengajar profesional tidak membuat Anda seorang profesional, dalam arti sebenarnya dari kata tersebut. Memiliki suatu profesi tertentu tidak secara otomatis menjamin bahwa layanan yang Anda berikan profesional. Oleh karena itu, mengajar sebagai seorang profesional adalah hal yang sulit untuk dilakukan karena mencakup banyak peran yang harus dilakukan dengan baik. Bagaimana Anda dapat sebagai seorang profesional sejati di bidang Anda?( Di kelas dan komunitas sekolah yang lebih besar)
Langkah 1 Bangun kepercayaan para siswa dan orang tua. Buat kesan pertama yang baik sejak hari pertama tahun ajaran.
Langkah 2 Berpakaian yang menunjukkan seorang profesional.
Langkah 3 Selalu tepat waktu dalam bekerja.
Langkah 4 Siapkan rencana menyeluruh untuk setiap pelajaran dan kelas.
Langkah 5 Ikuti prosedur dan protokol yang diharapkan di sekolah Anda.
Langkah 6 Mengelola kelas dan perilaku siswa Anda.
Langkah 7 Banggalah dengan proses dan produk.
Langkah 8 Jangan pernah melewatkan batas waktu.
Langkah 9Up to date tugas siswa.
Langkah 10 Perlakukan rekan Anda dan pengawas dengan hormat.
Langkah 11 Bergairah, positif, dan antusias tentang pekerjaan Anda.
Langkah 12 Merangkul perubahan.
Langkah 13 Menaruh minat pada setiap anak.
Langkah 14 Memperlakukan siswa dengan hormat.
Langkah 15 Menjadi mentor bukan teman.
Langkah 16 Menjaga kerahasiaan.
Langkah 17 Konsultasikan orang tua.
Langkah 18 Menempatkan layanan sebagai prioritas pertama.
Langkah 19 Dukungan rekan dan manajemen sekolah.
Langkah 20 Biarkan keunggulan menjadi tujuan Anda.
Langkah 21 Bertanggung jawab atas hasil siswa Anda.
Langkah 22 Bersikap profesional di depan umum.
Langkah 23 Mengikuti kebijakan pendidikan dan peraturan perundang-undangan. 
Langkah 24 Terus-menerus mencari pengetahuan subjek baru dan berbagi dengan siswa Anda. Langkah 25 Menyederhanakan pelajaran Anda:
Sumber :http://www.wikihow.com

Lima Pertanyaan Seputar Perencanaan Pembelajaran

Apakah pernyataan “Perencanaan dalam setiap kegiatan melibatkan komponen dalam kegiatan tersebut” berlaku dalam perencanaan pembelajaran? Bagaimana tinjauan dari aspek guru dan siswa?
Jawab: Sama halnya pada setiap perencanaan, semua komponen tentu terlibat dalam kegiatan tersebut. Begitu pula dalam perencanaan pembelajaran. Guru sebagai penyampai pelajaran memiliki multiperan seperti penulis skenario, aktor, sekaligus sutradara dalam pembelajaran yang dilaksanakannya.
Dari aspek guru, yang harus ditampilkan dalam pembelajaran setidaknya dapat terkondisikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Ketersediaan waktu menjadi penentu agar pembelajaran yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Dalam kata lain, indikator ketercapaian kompetensi telah terukur dan mampu menggambarkan tingkat kepahaman dari peserta didik. Guru harus mampu mengajak siswa tertarik dengan pelajaran yang diberikan melalui inovasi kreatif dalam mengajar, misalnya penggunaan metode anjangsana (kunjungan) ke objek yang terkait dengan materi ajar.
Dari aspek siswa, komponen pembelajaran yang dibutuhkan siswa setidaknya telah tersedia media pembelajaran yang menarik dan relevan dengan materi ajar yang sedang diberikan. Kesesuaian ini akan menumbuhkan motivasi dan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran. Pada akhirnya siswa akan dengan mudah menyerap pelajaran yang sedang diberikan. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan berjalan dengan efektif karena mampu mengarahkan siswa untuk paham dengan materi pelajarannya.
Bagaimana perencanaan pembelajaran yang ideal menurut tuntutan kurikulum yang berlaku?
Perencanaan yang ideal menurut tuntutan kurikulum tentunya telah memenuhi kriteria yang harus dilakukan dalam pembelajaran. Sesuai dengan kurikulum yang sedang berlaku, perencanaan setidaknya meliputi tiga hal pokok, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, kemudian penutup. Dalam satu paket perencanaan tersebut telah tergambarkan model pembelajarannya dengan jelas. Kemudian di dalam strategi hingga taktik mengajar juga telah disebutkan pada rencana pembelajarannya.
Uzer Usman dalam bukunya “Menjadi Guru Profesional” menyebutkan persiapan mengajar yang baik harus memenuhi kriteria:
  • Materi dan tujuan mengacu pada garis besar program pengajaran.
  • Proses belajar mengajar menunjang pembelajaran aktif dan mengacu pada analisis materi pelajaran.
  • Terdapat keselarasan antara tujuan, materi dan alat penilaian.
  • Dapat dilaksanakan.
  • Mudah dimengerti/dipahami.
Dalam perencanaan pembelajaran hal yang perlu ditampilkan pertama kali adalah Standar Kompetensi (SK). Selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD) sebuah topik, dari topik yang akan dibahas kemudian ditentukan pula indikator yang akan dicapai. Berikutnya menyebutkan tujuan pembelajaran yang seterusnya diberikan gambaran/deskripsi singkat materi yang akan disampaikan. Kemudian menyebutkan pendekatan dan metode yang akan dipakai. Sedangkan didalam kegiatan inti hingga kegiatan akhir menyebutkan taktik yang akan dilakukan meliputi membuka dengan doa, menyampaikan materi pertemuan selanjutnya serta doa penutup. Dibagian akhir disebutkan pula sumber ajar, alat, media, teknik penilaian, bentuk penilaian, intrumen dan kriteria penilaian.
Apakah strategi yang tepat dapat mengembangkan intelektual peserta didik?
Jawab: Kemampuan intelektual peserta didik dapat terasah dengan pemilihan strategi belajar yang tepat. Hal seperti ini didahului oleh motivasi dan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran. Motivasi dan semangat siswa pertama kali akan muncul apabila guru dapat menyampaikan materi ajar dengan menarik. Misalnya dengan pemilihan media belajar, teknik mengajar, dan metode pembelajaran yang menyenangkan siswa. Pembelajaran yang baik berupaya mengarahkan siswa untuk dapat mengeksplor pengetahuannya berdasarkan hal terkecil yang pernah ia temui, misalnya siswa diajak untuk menggambarkan sebuah kenampakan fisik suatu objek yang pernah ia temui. Dengan demikian pengetahuan siswa akan berkembang.
Guru tidak seharusnya memaksa peserta didik yang agak lamban dalam belajar agar serta merta mengikuti proses pembelajaran disekolahnya. Guru juga jangan menghambat peserta didik yang jenius untuk berhenti menunggu pasif teman-temannya yang masih jauh di bawahnya. Dari sini ada penekanan agar guru tetap memperhatikan tingkat kemampuan peserta didik dalam menyerap materi ajar.
Dewasa ini muncul pendidikan yang berorientasi pada kebebasan individu dengan mengeksploitasi kemampuan peserta didik atau pihak yang berkepentingan (misal orang tua). Bagaimanakah sebaiknya?
Jawab: Pendidikan yang demikian itu memiliki tujuan agar peserta didik mampu memahami sebuah materi ajar dengan mendalam. Dalam kaitan ini muncul upaya kreatif dengan sendirinya dari siswa. Kreatif dalam belajar maksudnya adalah berkenaan dengan penggunaan atau memfungsikan kemampuan mental produktif dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah, atau upaya pengembangan bentuk-bentuk artistik dan mekanis. Di dalam kelas sebaiknya tidak perlu mengistimewakan individu tertentu, tetapi di luar kelas ia dapat dibina secara khusus.
Pembelajaran yang berlangsung di kelas berusaha untuk mengikuti alur: pendahuluan, kegiatan inti, penutup (akhir pembelajaran). Mengapa harus demikian? Bagaimana jika tidak demikian?
Jawab: Pembelajaran yang dilakukan sebenarnya dapat saja dijalankan tanpa mengikuti alur. Namun, pembelajaran yang diselenggarakan jadi sulit untuk diukur tingkat ketercapaiannya. Dengan demikian, idealnya memang pembelajaran yang dilakukan ialah mengikuti alur tersebut. Ini akan memberikan kesan bahwa pembelajaran yang dilakukan step by step atau langkah demi langkah. Dalam alur ini, pendahuluan atau kegiatan awal dimaksudkan untuk memberi pancingan dan curah pendapat (brain storming) agar dapat diarahkan pada materi pelajaran. Sementara itu, kegiatan inti merupakan langkah praktik yang dipakai dalam kegiatan belajar seperti penggunaan metode ajar. Pada bagian akhir hendaknya diberikan kesimpulan sehingga apa yang telah dipelajari akan diulas dan disimpulkan dengan lebih singkat untuk mudah dipahami siswa.
Penulis:Rudiono, staf pengajar di STKIP PGRI Pontianak, menempuh pascasarjana di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kontak: onorudyasv(at)yahoo(dot)co(dot)id.
http://majalah1000guru.net/2012/01/perencanaan-pembelajaran/

APAKAH INI BENAR-BENAR KENYATAAN?

Helen Reeves adalah 40 dan kepala sekolah akting di Queensbridge sekolah menengah, Birmingham, posisi dia telah diadakan sejak September 2008 setelah sebelumnya menjadi guru wakil kepala. Dia memulai karirnya di Queensbridge Sekolah sebagai kepala seni pertunjukan pada tahun 1999.

"Menjadi wakil kepala adalah sebuah tantangan tetapi peran kepala sekolah adalah semua memakan. Siang hari sementara aku di sekolah saya tidak punya waktu untuk melihat email-email saya karena saya sangat sibuk dengan tugas-tugas seperti merespon masalah dengan perilaku murid, mengambil majelis dan merencanakan untuk tahun depan.

Saya bekerja di depan komputer selama beberapa jam setelah anak-anak terlelap di tempat tidur di malam hari.

Beberapa kepala sekolah sekarang hampir tidak memiliki pengalaman mengajar, tapi saya percaya waktu itu di kelas sangat berharga. Anda harus tahu apa yang harus guru lakukan, dan berat yang melayani kebutuhan murid. Saya memiliki hubungan pribadi dengan sebagian besar murid karena saya sudah berada di sebuah sekolah kecil begitu lama.

Hal yang paling penting dan menantang adalah untuk memahami visi Anda untuk sekolah dan menaatinya. Sebagai contoh, saya percaya dalam mencoba untuk memberikan siswa yang mungkin dalam sebuah kesempatan. Ini adalah perjuangan, saya mendapatkan begitu banyak kepuasan melihat murid dapat melalui berbagai tugas.

Seorang kepala sekolah harus terampil dalam mendapatkan yang terbaik dari semua orang, termasuk guru serta murid. Juga, mungkin terdengar jelas, tetapi Anda harus seperti berada di sekitar anak-anak.
Sumber: http://www.myjobsearch.com

KEPALA SEKOLAH MUDA

Pada usia 30, Max Haimendorf adalah kepala sekolah termuda di negaranya. Tapi apakah dia terlalu muda?
Delapan tahun yang lalu, Max Haimendorf adalah sarjana universitas. Hari ini, berusia 30, dia adalah kepala sekolah sekolah menengah - yang termuda di negara ini.

Haimendorf merupakan produk Teach Pertama, organisasi berkomitmen untuk merekrut dan melatih lulusan terang sebagai guru - dan itu bertujuan untuk cepat-track 100 dari mereka menjadi headships tahun 2018. Minggu ini, meluncurkan alat terbaru untuk membantu menuju ambisi itu - sebuah Jaringan kepala calon 'yang akan menghubungkan lulusan muda yang berharap untuk bergerak cepat ke kepemimpinan, menyediakan mereka dengan dukungan sebaya dan persahabatan.

Mengingat bahwa dua pertiga dari kepala sekolah sekolah menengah yang ada diharapkan untuk pensiun dalam dekade berikutnya, dan bahwa penelitian yang dipublikasikan bulan lalu menunjukkan bahwa lebih sulit sekarang daripada pada waktu lainnya selama 25 tahun terakhir untuk sekolah negeri untuk merekrut kepala, Teach First ambisi terdengar terpuji - dan mungkin juga penting. Tapi apa yang terjadi seperti menjadi kepala sekolah di seperti usia muda? Dan dalam jangka panjang, ia akan berubah telah jauh ke depan, atau bodoh, untuk menempatkan guru baru yang berkualitas seperti dalam posisi tanggung jawab seperti itu?

Haimendorf berhati-hati: ia mengatakan ada keadaan unik yang telah menyebabkan dia ditunjuk sebagai kepala bagian sekolah menengah Raja Solomon akademi di Marylebone, London pusat. Sejauh sekolah, yang dibuka September lalu, hanya memiliki satu tahun 7, dengan 60 murid menghadiri - tetapi akan tumbuh dari tahun ke tahun, dan Haimendorf tidak memiliki keraguan bahwa itu adalah "tanggung jawab besar".

"Pengalaman jelas merupakan bagian penting dari apa yang Anda cari dalam kepala sekolah," kata dia. "Tapi para sponsor sekolah ini sedang mencari seseorang yang memiliki antusiasme dan semangat untuk melakukan hal-hal yang berbeda -. Dan itu adalah aku"

Cita-cita utama pendukung sekolah - yang dihiasi dengan slogan-slogan seperti "Mendaki gunung ke universitas" - adalah bahwa setiap anak akan mendapatkan ke universitas. "Kami mulai dengan harapan untuk anak-anak - kita tahu bahwa kita dapat mengubah kehidupan siswa," katanya.

Iklan

Ia yakin idealisme bisa menjadi senjata rahasianya. "Ada rasa kesegaran bahwa seseorang dengan tingkat saya pengalaman mungkin dapat membawa, sedangkan seseorang yang telah melihat banyak inisiatif datang dan pergi mungkin telah membangun rasa kekecewaan dan frustrasi yang dapat melemahkan semangat mereka."

Haimendorf, yang merupakan matematika lulusan Oxford, mengatakan dia tidak meremehkan fakta bahwa ada banyak gunung di depannya karena ada di depan murid-muridnya. Dia menyukai ide pekerjaan, katanya, karena tampak begitu berbeda dari "biasa conveyor-belt yang mengambil Oxbridge lulusan ke kota".

"Saya ingin sesuatu yang berbeda dan menarik yang juga akan berguna secara sosial. Ada banyak yang saya tidak tahu, tapi saya meminta kepala lebih berpengalaman untuk saran dan mereka umumnya mendukung dan membantu." Ada masalah di masa lalu dengan pendidikan sebagai karir di bahwa itu cenderung memakan waktu sekitar 17 tahun dari entri untuk menjadi kepala. Itu tidak menarik bagi banyak lulusan. Banyak orang yang saya berada di universitas dengan berada di ambang menjalankan dana investasi atau membangun diri mereka sebagai direktur teater, dan ada rasa di mana itu tidak menarik untuk harus menunggu untuk melakukan waktu Anda sebelum menjadi kepala sekolah jika Anda pergi ke mengajar.

"Saya tahu banyak orang berpikir aku muda untuk melakukan hal ini, dan saya hidup dengan tanggung jawab besar setiap hari, tapi saya yakin saya akan berhasil karena saya benar-benar percaya pada apa yang kita coba lakukan di . Sekolah ini Ini tentang harapan: kita memiliki harapan yang tinggi dari siswa kami, dan sekolah dan semua orang yang berhubungan dengan itu, dan Ajarkan Pertama memiliki harapan yang tinggi dari saya ".

Jalan di Reigate, di Surrey, kepala sekolah menengah John Cain adalah melihat masalah dari ujung lain dari spektrum. Dia 58, dan pensiun musim panas ini setelah 18 tahun sebagai kepala sekolah dari sekolah Reigate. Dia tidak sinis terhadap Ajarkan ambisi Pertama, tetapi ia skeptis tentang apakah guru muda tersebut dapat memberikan sebagai kepala sekolah sehingga di awal karir mereka.

"Pengalaman adalah sangat berharga untuk kepala Ketika saya dengan tim manajemen saya, yang kebanyakan adalah jauh lebih muda dari saya, saya cenderung untuk menghabiskan banyak waktu dengan mengatakan:". Jika kita melakukan itu, maka ini mungkin terjadi . " Anda telah melihat banyak situasi, dan Anda telah belajar banyak melalui itu.

"Orang-orang bisa cepat dilacak dan dilatih, tetapi realitas pengambilan keputusan seringkali sangat berbeda dari cara panci keluar dalam situasi role-play.

"Dalam banyak hal ini adalah sedikit seperti gagasan bahwa Anda harus memiliki gelar kelas menjadi guru yang baik. Dalam pengalaman saya, klasifikasi gelar Anda adalah tidak ada relevansinya dengan seberapa baik seorang guru Anda. Bahkan , jika Anda telah berjuang dengan subjek diri sendiri, Anda mungkin akan lebih mampu memahami mengapa orang lain berjuang dengan itu.

"Apa yang akan ini kepala muda lakukan dalam waktu 10 tahun? Apakah mereka ingin menjadi kepala selama 35 tahun? Ini perintah tinggi. Tapi masyarakat menginginkan konsistensi, mereka tidak ingin orang-orang yang akan melayang dan keluar dari peran seperti kepala sekolah - orangtua ingin melihat seseorang yang akan tinggal melalui waktu anak mereka di sekolah, idealnya, jika mereka baik ".

Masalah lain dengan tanaman kepala sangat muda dalam beberapa tahun ke depan, Kain memprediksi, bahwa dana akan menjadi masalah besar dalam pendidikan - dan hanya guru yang lebih tua yang akan memiliki pengalaman apa rasanya menjalankan sekolah pada mengendalikan dengan ketat. "Ada banyak investasi di bidang pendidikan ... tapi itu tidak bagaimana hal itu akan menjadi di masa depan. Dan untuk menemukan orang-orang yang tahu bagaimana Anda menjalankan sebuah lembaga dengan sedikit uang, Anda harus kembali ke tahun 1990-an."

Kekhawatiran Kain tentang kepala muda berpadu dengan pandangan dari beberapa kepala calon sendiri. Steve Adcock, 28, keenam bentuk kepala di Burlington Danes akademi di London barat, yang bergabung dengan Teach Pertama jaringan kepala 'calon, mengatakan dia melihat ke depan untuk bertukar pikiran dan ide-ide dengan guru ambisius lainnya - tetapi tidak terburu-buru untuk mengambil up kepemimpinan dirinya.

"Saya akan mempertanyakan Ajarkan tujuan pertama mendapatkan 100 kepala pada tahun 2018. Anda membutuhkan kepala yang dapat menangani tekanan, dan Anda harus menjadi semacam cukup unik karakter untuk menjadi kepala baik dalam usia 30-an. Saya berlangganan ide bahwa orang-orang berbakat dan pekerja keras harus mampu membuat kemajuan yang baik, tapi aku tidak benar-benar membeli ke gagasan melakukan hal itu dalam waktu yang ditetapkan.

"Menjadi kepala adalah pekerjaan tekanan tinggi dengan banyak tanggung jawab, dan Anda dilemparkan ke dalam segala macam situasi sulit. Aku ingin melakukan pekerjaan satu hari, tapi aku tidak terburu-buru robek."

Sumber: http://www.theguardian.com

Sumber: